Minggu, 08 Januari 2017

SUKA DUKA FARMASIS (PART 2)

Sumber gambar : http://www.glasbergen.com/

Intermezzo di siang hari yang agak mendung ini... 
Selalu penuh kejutan di saat aku bekerja sebagai farmasis. Enjoy it!


Senyum 4
Suatu pagi di pojok konseling pengobatan TB...
Petugas : Bu Hayati rumahnya Kedawung Sragen ya? (*nama disamarkan)
Pasien : Nggih Mbak...
Petugas : Njenengan pikantuk pengobatan kangge sakit TB nggih....bla...bla...bla... (penjelasan menggunakan bahasa Jawa halus...) Sampun ngertos dereng Bu?

---- Krik...Krik...Krik ----

Pasien : (pandangan kosong) ???
Petugas : Bu...sampun paham nopo tasih bingung?
Pasien : Mbak, saya nggak ngerti Mbak ngomong apa... Saya aslinya dari Banjarmasin, nggak bisa bahasa Jawa...
OMG...Roaming ternyata...bisanya "NGGIH" doang...

Senyum 5
Beberapa waktu lalu di apotek, pasien maju ke loket penyerahan obat.
Bapak : Mbak obatnya sudah jadi belum ya? Soalnya tadi saya tinggal keluar dulu
Petugas : Namanya siapa Pak?
Bapak : Saya Pak Slamet
Ubek-ubek obat yang sudah jadi, tapi nggak ada yang resepnya atas nama Pak Slamet.
Petugas : Sebentar ya Pak,  saya cari resepnya Pak Slamet kok belum ada. Coba saya pinjam kartu kontrolnya, saya carikan lagi.
Bapak : Oooh pasiennya itu simbok saya, Bu Tanem namanya Mbak...saya yang mengantarkan. Sy kira tadi Mbak nanya nama saya (tersipu-sipu)
Petugas : Oalaaah Pak...Pak...

*nama disamarkan
*percakapan asli pake bahasa jawa

Senyum 6
Tiap kali menyerahkan obat, pasien diminta tanda tangan dibalik resep. Itu salah satu SOP di tempat kami.
Petugas : Pak, tolong tanda tangannya disini ya (sambil menunjuk bagian belakang resep)
Pasien : Wah Mbak, saya nggak bisa tanda tangan, kalau cap jempol gimana?

Petugas : ...(Senyum simpul)


Esok hari, ada cerita ajaib apa lagi yaa? Masih bersambuuuung....

Selasa, 03 Januari 2017

SUKA DUKA FARMASIS


Sumber gambar : http://www.glasbergen.com/

Selalu ada senyum dibalik keruwetan dan berjubelnya pasien di unit pelayanan kesehatan tempatku bekerja. Beragam kejadian ajaib yang berasal dari interaksi antara petugas farmasi dan pasiennya ini kerap memancing senyum simpul, yang bercampur aduk dengan berbagai perasaan mulai dari geli, gemas, dongkol, hingga takjub. Enjoy it!

Senyum 1

Petugas : Bapak sudah pernah dapat obat hisap yang seperti ini? (Sambil menunjukkan dummy / alat peraga inhaler)
Bapak : Tadi sudah diajarin dokter...
Petugas : Coba Bapak praktekkan ya, kalau belum betul nanti kami jelaskan kembali
Pasien : (sambil praktek) buang nafas, sedooot, terus tahan nafas 10 menit...
Petugas : Waduh Pak jangan lama-lama tahan nafasnya, 10 detik saja... jangan 10 menit ya (sembari menahan senyum)
Bapak : woalaah... iya Mbak... tadi saya juga mikir haha... (ngakak)


Senyum 2

Petugas : bla... bla...bla (menjelaskan cara minum obat)
Simbah : Sudah ada tulisannya kan Mbak?
Petugas : Sudah ada Mbah, nanti kalau lupa bisa dibaca lagi
Simbah : Nanti biar anak saya yang membacakan Mbak, saya buta huruf kalau huruf latin.. bisanya baca tulisan arab gundul di kitab-kitab
Petugas : .... (dalam hati WOW...keren lho mbah)


Senyum 3Top of Form

Kejadian beberapa waktu lalu di pojok konseling pengobatan TB
Petugas : Pak, tolong maskernya dipakai ya...
Pasien : Oya sebentar Mbak... (sambil celingukan, merogoh saku dan tas kresek yang dibawa...)
Petugas : Pak...maskernya dipakainya begini ya Pak (petugas menunjuk ke wajahnya sendiri yg memakai masker)
Pasien : Iya ya Mbak, sebentaaar... (masih sibuk ubek-ubek sana sini)
Petugas : Pak, Pak...maskernya dari tadi sudah disitu lho pak...NAAAH !

Dan dari tadi si "masker" yang dicari-cari ini sudah nangkring dengan cantiknya menutupi jenggot si bapak...

Minggu, 01 Januari 2017

HIKMAH LUAR BIASA DARI ORANG BIASA

Sumber foto : http://www.kabarmuslimah.com/

Kisah 1

Dulu sewaktu awal menikah, kami tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan bernama Gumpang, dekat Surakarta. Mungkin orang se-Gumpang raya dan sekitarnya tahu warung sayur-mayur dan lauk pauk dekat pertigaan jalan  ini...Warung ini begitu populer di kalangan emak-emak, karena letaknya yang strategis berada di dekat perumahan dan dagangannya juga komplit. Kami nggak perlu pergi jauh ke pasar untuk belanja keperluan dapur. 

Tiap pagi hingga petang nggak pernah sepi dari pembeli...

Oleh tetangga sebelah rumah, aku sering mendengar cerita kalau sedang rame-ramenya pembeli di warung itu, adaaa saja orang yg berlaku nggak jujur. Ada ibu-ibu yang suka mengutil bungkusan berisi ayam, daging, ikan atau lauk-pauk yang lain. Astaghfirullah...benar-benar memanfaatkan keadaan deh. Ternyata pemilik warung pun sebenarnya tahu kejadian itu. Mbah Mar, kami memanggilnya demikian, hanya mendiamkan saja. Justru malah tetanggaku yang sering gemas, menanyakan kejadian itu ke pemilik warung.

Tetangga : "Mbah, si anu atau si ini tadi ngambil sebungkus ayam lho..."
Mbah Mar : "Saya sebenarnya juga tahu kok Bu, nggak apa-apa lah...biarin aja"
Tetangga : "Lha gimana to mbah, nanti kalau nggak ditegur malah jadi tuman (terbiasa-       bahasa jawa)"
Mbah Mar : "Sudah...nggak apa-apa...nanti juga ada gantinya"

Wow woles banget...Asli takjub mendengarnya.

Masih ada ya orang seperti ini di jaman sekarang.
Tapi benar juga kok, rejeki memang nggak akan tertukar. Kenyataannya warung itu tambah laris manis.
Di saat warung sekitarnya gulung tikar dan tutup, warung yang ini tetap berjaya.

=======

Kisah 2

Anda tahu penjual tenongan? Penjual makanan keliling yang biasanya menggunakan keranjang bertumpuk-tumpuk, kadang ada menggendong keranjangnya sembari berjalan kaki menjajakan dagangannya, ada pula yang menaiki sepeda ataupun motor.

Di kantor tempatku bekerja ada seorang penjual tenongan yang cukup legendaris.
Sudah puluhan tahun dia menjadi langganan karyawan kantorku dan kantor-kantor lain sepanjang Jalan Jajar.

Sering kami iseng-iseng menanyakan padanya mengapa dia sanggup bertahan untuk jualan keliling. Untung yang diraupnya pun pastilah tidak seberapa. Terkadang dia naik motor, tapi lebih sering harus naik turun bus dan berjalan kaki mengukur jalan. Tiap hari terpaksa panas-panasan ataupun kehujanan.
Belum lagi kalau ada pembeli yang berhutang, dia nggak pernah menagihnya.
Kalaupun besok-besok dibayar ya syukur Alhamdulillah, tapi kalau terlupa nggak dibayar ya dikhlaskan.
Lah, prinsip jualan yang aneh bukan? Hanya berlandaskan prinsip kepercayaan antara penjual dan pembeli...

Lalu dia melanjutkan cerita, dari hasil jerih payahnya ini dia bisa menyekolahkan anak pertamanya setamat SMK. Dengan kehendak Allah, anak sulungnya ini pun akhirnya mendapat pekerjaan yg cukup mapan di sebuah perusahaan pertambangan di luar Jawa. Si sulung mampu menyekolahkan adiknya di bangku kuliah jurusan keperawatan.

=======

Gusti Allah niku mboten sare...

Yang aku lihat dari sosok mereka adalah orang-orang biasa dengan sifatnya yang luar biasa.
Berjuang tanpa lelah menjemput rizki-Nya tapi tak pernah lupa untuk selalu bersyukur dan merasa cukup dengan segala pemberian-Nya. 
Mereka percaya bahwa rizki itu tak akan tertukar.
Mungkin dari keikhlasan mereka bekerja, justru Allah memberikan balasan dengan cara lain yang tak disangka-sangka.

Dari orang-orang berhati besar ini aku banyak mengambil hikmah.
Saat suatu ketika suamiku meminta pendapatku untuk pertimbangan haruskah dia mengambil sebuah pekerjaan baru yang cukup menjanjikan. Tapi pekerjaan ini beresiko mendapatkan uang yang justru kurang jelas halal tidaknya.

Aku : "Kalau aku nggak mau dikasih uang yang kurang berkah lho Mas, yang pasti-pasti aja ya..."

Suami : "Iya...makanya dari awal aku juga ragu mau ambil"

Bukannya kami berdua sok suci ataupun sudah nggak butuh uang lagi. Justru kebalikannya, butuh sekali malahan hehe...
Tapi kami sedang belajar dengan menerima sesuatu yang sedikit, nantinya akan mengundang hal-hal yang besar datang.
Di dalam hati pun terasa adem ayem, masih bisa makan enak dan tidur pun nyenyak.
Tugas kami hanyalah mengencangkan doa dan ikhtiar. Hasilnya biarlah Allah yang menentukan.
Pekerjaan halal apapun bisa kita jadikan ladang kebaikan, semua tergantung niatan masing-masing.

Alangkah Dia Maha Adil dan Maha Kaya.
Bukankah sebaik-baik pembalasan adalah dari-Nya?
Bukankah rizki yang dicurahkan kepada kita tak harus berupa materi yang berlimpah?
Bisa jadi rizki itu berupa pasangan sejati, keluarga yg harmonis, anak yang sholih, sahabat dan tetangga yang baik, kesehatan, ketenangan jiwa, maupun kebaikan lain yang tidak pernah putus.

Belajar dari orang-orang biasa yang sungguh luar biasa
Belajar tiada henti dari kehidupan...


Sabtu, 31 Desember 2016

LIBURAN PART 2 : JOGJA...WE’RE COMING


Akhir pekan lalu kami gagal mendapatkan tiket Prameks ke Jogja gara-gara dadakan ke stasiun, dan terlupa kalau saat musim liburan lonjakan jumlah penumpang begitu luar biasa. Kali ini kami harus melakukan persiapan yang matang. Hari Kamis ini aku mengajukan libur sehari dari kantor, dan suamiku yang kerjanya fleksibel pun sudah mengatur jadwalnya. Rabu siang, suamiku sudah memesan tiket Prameks untuk pergi-pulang Solo-Jogja pada hari Kamis.
Kamis pun tiba, waktunya petualangan dimulai...jeng jeng jeng...


Antusiasme anak-anak saat perjalanan naik kereta Prameks

Pukul 7.00 lebih kami sudah tiba di stasiun menunggu kereta tiba. Wajah antusias anak-anak tak bisa ditutupi, terutama Aizar yang baru pertama kali ini akan merasakan sensasi naik kereta. Kereta tiba, dan para penumpang berdesakan masuk. Ooh ternyata kereta sudah penuh sesak, terpaksa kami berempat berdiri bersama penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Tak masalah...karena sedari awal kami sudah berjanji dengan menautkan jari kelingking kami bahwa apapun yang terjadi hari ini kami harus bersenang-senang.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke stasiun Tugu Jogja, yakni kurang lebih 1 jam. Touch down di Jogja...yeaaay we are coming! Setibanya di pintu keluar stasiun kami sudah disambut oleh tukang becak dengan rayuan mautnya. Kami pilih salah satu tukang becak yang terlihat paling semangat merayu. Lalu kami pun menuju ke Taman Pintar, area bermain terdekat dari stasiun. Di Taman Pintar ini ternyata penuh sesak dengan banyaknya rombongan keluarga dan anak-anak sekolah. Kebetulan ada hadiah menarik untuk pembeli tiket ke 1 juta. Wah tiket kami urutan keberapa ya? Aah ternyata kami belum bisa dapatkan hadiahnya. Hehe... Kami bermain sepuasnya hingga menjelang waktu Zuhur.

Melintasi bawah deretan air mancur di Taman Pintar Jogja

Selepas makan dan sholat, kami melanjutkan perjalanan ke pabrik pembuatan bakpia. Kali ini diantarkan dengan Betor atau Becak Motor, yang tarifnya lebih murah daripada becak konvensional. Istilah “pabrik” mengesankan tempat produksi skala besar, tapi pabrik bakpia yang ini termasuk salah satu home industry dimana para pengunjung yang kesana bisa melihat langsung proses pembuatan cemilan lezat yang selama ini jadi kegemaran kami. Puas memborong oleh-oleh di outlet sebelah tempat pembuatan bakpia, langsung kami menuju Malioboro. Sebuah jalan legendaris di kota Jogja yang tiap sudutnya menawarkan aneka rupa suvenir khas Jogja. Belanja disana haruslah pintar tawar-menawar ya, supaya kita mendapat harga yang wajar. Sayangnya aku bukanlah tipe yang pintar menawar dagangan, sebenarnya yang lebih pas adalah kurang tega pada penjualnya. “Ini harganya berapa Bu?” tanyaku dan langsung dijawab oleh penjual dengan sebuah harga yang fantantis tak masuk akal. “Baiklah, pasnya berapa?” tanyaku lagi. Penjual akan menyebutkan sebuah harga yang hampir separuhnya dari harga yang ditawarkan semula. Kalau aku rasa harganya cocok, transaksi jual beli terjadi. Tapi kalau tidak, aku akan cari penjual lain sampai kami temukan harga yang cocok. Dan hasilnya tararaaa... dengan uang Rp.140.000,00 kami bisa mendapatkan 2 set baby doll anak, 1 set baju santai anak, 1 daster batik lengan panjang, 1 celana joger, 1 celana santai pria. Total 6 potong baju! Lumayan, emak hemat senang sekali... (Haruskah aku bilang W O W?)

Detik berlalu begitu cepat. Tak terasa waktu hampir menunjukkan pukul 13.30. kami mempercepat langkah kami, karena kereta pulang ke Solo akan berangkat pada pukul 13.50. Menyusuri jalan Malioboro yang begitu padatnya, kami tergesa berjalan beriringan. Dengan tentengan oleh-oleh di kedua tangan dan cangklongan tas yang lumayan berat, aku agak terseok-seok menyisir jalan. Sedangkan suamiku memanggul Aizar di punggungnya, dan Raina terpaksa berlari-lari kecil mengimbangi langkah kami. Tepat sampai di pintu depan stasiun Tugu, lewat pengeras suara petugas mengumumkan kedatangan kereta Prameks yang akan kami tumpangi. Setelah melewati pemeriksaan tiket, kami setengah berlari menuju jalur 1. Kami menghempaskan diri di tempat duduk kereta dengan tampang awut-awutan dan peluh di sekujur badan. Fiuh...sekilas kulirik arlojiku pukul 13.47, nyaris saja terlambat. Tepat pukul 13.50 kereta melaju meninggalkan Jogja menuju kota kediaman kami.

Wajah-wajah kelelahan anak-anak yang terlelap dalam tidur sejenak mereka, membuat aku dan suami saling melemparkan senyum. Kelak kami ulangi lagi petualangan baru, mungkin singgah di kota lainnya, dan tentu saja akan kami ajak serta adik bungsu kesayangan mereka, Fathiya. Tunggulah saat itu tiba, anak-anakku!

Senin, 26 Desember 2016

KENCAN BERDUA


Sumber foto : http://www.goodmorningquote.com/


Sempat terpikirkan olehku untuk kencan berdua saja. Kali ini bukan dengan pasangan, melainkan dengan putri sulungku yang berusia 7 tahun, Raina. Tapi karena kesibukan masing-masing, rencana itu terlupakan begitu saja. Pada hari kerja aku disibukkan dengan urusan kantor, sedangkan saat di rumah aku harus membagi perhatianku untuk ketiga putra-putriku. Hingga aku temukan sebuah artikel di sebuah komunitas parenting asuhan bunda Elly Risman di facebook, yang mengupas tentang pengalaman admin mengajak anaknya untuk nge-date berdua saja. Bagaimana cara ini bisa menambah kedekatan hati antara orang tua dan anak. Wah pas sekali ini, aku jadi teringat lagi dengan rencana kami yang tertunda.

Akhir pekan itu, aku sengaja luangkan waktu untuk menemani Raina jalan-jalan. Saat aku sampaikan ideku ini dia langsung terlonjak gembira. Just the two of us. Nggak perlu jauh-jauh juga kok, cukup ke mall terdekat saja hehe... Aku ajak dia ke toko buku, kubiarkan dia memilih satu buku yang ingin dia beli. Sebelumnya aku ajak dia bermain sejenak di area permainan anak. Lalu kami singgah ke food court, lagi-lagi aku biarkan dia bebas memilih menu favoritnya. Sudah kuduga kalau Raina akan memesan es krim crepes dengan taburan coklat yang yummy dan kentang goreng kesukaannya... Sembari kami melahap kudapan yang lezat ini, kami berdua mengobrol seru tentang apa saja. Terkadang aku sendiri tidak terlalu mengerti apa yang Raina ceritakan, karena gaya ceritanya yang mengalir begitu saja penuh ledakan semangat dan imajinatif. Tak apalah, aku dengarkan saja. Aku senang melihatnya tertawa, dan aku pun senang mendengarkan alunan suara cemprengnya. Walaupun hanya berlangsung selama beberapa jam saja, tapi sepanjang waktu itu perhatianku hanya untuk Raina seorang. Tidak berbagi perhatian dengan adik-adiknya, bahkan tersita oleh gadget. Tentu saja aku tunda dulu keinginan untuk mengintip HP maupun online.


Hari itu aku sebut hari spesial yang kupersembahkan untuk Raina. Dia merasa begitu istimewa dengan cara kita memperlakukannya. Boleh juga nih kalau kedepannya kami jadikan rutinitas, dan jika tiba saat yang tepat nanti akan kulakukan juga hal yang sama bersama adik-adiknya. Tampak sekali kalau Raina begitu antusias kencan bersama ibunya. Rasanya bibir ini ingin terus-menerus menyunggingkan senyuman. Meskipun sepulang dari acara kencan hujan turun dengan lebatnya, kami terjang saja dengan riang gembira. Bahagia itu sederhana. Kenangan yang indah bersama anak adalah harta karun kita. Kelak ini akan menjadi hal yang sangat berharga buat kami berdua. 


Sabtu, 24 Desember 2016

LIBURAN PART 1 : TAMAN SRIWEDARI


Beberapa wahana permainan di THR Sriwedari


Pukul 7.30 kami berempat (tanpa si bungsu) sudah tiba di stasiun Purwosari. Rencana awal aku dan suamiku ingin mengajak Aizar untuk merasakan sensasi naik kereta api dari Solo ke Yogyakarta. Aizar tampak tak sabar ingin menaiki kereta Prameks, gara-gara terprovokasi cerita kakaknya, Raina, yang dulu pernah kami ajak melancong ke Bandung naik kereta api. Tapi sayangnya, tiket Prameks menuju Yogya telah ludes terjual hingga periode keberangkatan siang. Yah, musim liburan seperti ini pastilah moda transportasi umum sesak dijejali penumpang yang akan bepergian.
Terpaksalah kami berganti rencana. Anak-anak kami ajak berkeliling kota Solo dengan menaiki bus Batik Solo Trans. Asyik juga lho...sepanjang jalan kami membicarakan hal-hal yang kami lihat di jalan.
Setelah puas berkeliling kota, kami ajak mereka ke Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari. Tiket masuk per orang Rp. 10.000,00 dan di tiap wahana permainan anda diharuskan membeli tiket lagi. Buat anda yang tidak mau repot cukup membeli tiket terusan untuk digunakan sebagai tiket masuk ke berbagai macam wahana permainan. THR Sriwedari memiliki wahana permainan yang cukup komplit. Mulai dari bom bom car, perahu kecil, carousel, kereta monorail, sampai dengan mini coaster yang sanggup membuat anak-anak berteriak heboh. Setelah mencoba wahana permainan pilihan Raina dan Aizar, mereka pun berenang sepuasnya di kolam renang khusus anak.
Tapi entah kenapa wahana-wahana ini terkesan suram dan saat kesana pun tidak begitu ramai pengunjung. Padahal dari segi sarana prasarana dan biaya tiketnya, Sriwedari seharusnya bisa bersaing dengan taman hiburan yang lain.
Wajah ceria Raina dan Aizar


Alhamdulillah, indahnya hari ini. Mentari juga bersinar cerah sepanjang hari. Untuk bersenang-senang bersama keluarga tidak harus bepergian jauh dan mengeluarkan biaya yang mahal. Sejak awal anak-anak juga menepati janji mereka untuk bergembira hari ini, yaaa...tidak boleh ada yang cemberut dan bermuka muram. Gurat kelelahan jelas terlihat saat mereka pulang, tapi kami tahu dari binar mata mereka terpancar kebahagiaan. 

SAAT HARUS MEMASAK

Sumber foto : http://www.getnowapp.com/


Mungkin salahku sendiri...mengapa sejak kecil aku tidak pernah berurusan dengan dapur. Nggak mau tahu urusan memasak tepatnya. Dari kecil hingga aku beranjak dewasa, asisten rumah tanggalah yang lebih sering menghidangkan aneka hidangan lezat di rumahku. Ibuku yang seorang tenaga kesehatan berdedikasi tinggi, juga sering memasakkan makanan favorit kami sewaktu ada waktu luang atau saat liburan. Tapi aku sendiri tak pernah tertarik membantu mereka di dapur. Hah...anak perempuan macam apa aku ini? 

Untungnya saja setiap kali berlibur ke rumah eyangku di Blora, beliau memberikan tugas di dapur dan aneka tips dasar memasak, mulai dari mengupas bawang, mengulek bumbu, menumis, mengiris-iris, memarut kelapa, sampai mengenalkanku aneka macam bumbu masakan. Bayangkan kalau saja eyangku tak pernah menyeretku ke dapur, pastilah aku tak pernah bisa membedakan mana laos dan kencur hehe...

Hingga waktunya aku berumah tangga dan mengontrak sebuah rumah, aku berterus terang ke suami jika istrinya ini tak piawai memasak. Kami lebih sering beli makanan jadi daripada memasak sendiri. Saat sedang mood untuk memasak, suami mau nggak mau terpaksa menghabiskan makanan yang kumasak biarpun rasanya mungkin ngalor ngidul alias nggak jelas...

Setelah pindah ke rumah sendiri, aku memiliki asisten rumah tangga yang menginap di rumah dan otomatis aku serahi urusan memasak. Sempat beberapa kali berganti asisten, dan aku pun masih jarang memasak. Sampai sekitar empat bulan yang lalu, asisten rumah tanggaku pamit karena ajakan anaknya untuk ikut merantau ke luar Jawa. Sempat kalang kabut mencari pengasuh untuk si bungsu yang baru berumur dua tahun, akhirnya kami menemukan penggantinya dari kampung sebelah, dan setiap hari pulang pergi. Oke it’s fine... aku masih bisa menangani urusan rumah termasuk menyiapkan keperluan ketiga anak-anakku sebelum berangkat ke kantor. Apalagi si sulung masuk sekolah pukul 6.30. Jika harus menunggu asistenku yang datangnya pukul 6.30 untuk memasak, si sulung pastilah berangkat sekolah dengan perut kosong. Untuk sarapan anak-anak bisa beli makanan jadi, pikirku. Tapi baru beberapa kali berjalan, ah anak-anakku mulai bosan dengan menu yang itu-itu saja, nafsu makan mereka pun jadi berkurang. Bisa runyam nih urusannya...

Oke...aku harus bisa memasak! Tekad yang membara di dalam dada, demi memberikan yang terbaik untuk anak-anak.

Mulailah aku hampir tiap hari belanja keperluan dapur, sayuran, lauk pauk, dan tetek bengeknya. Lalu aku mulai menyusun menu harian yang terdiri dari sayur dan lauknya, kadang bisa 2 macam menu (pedas dan tidak pedas). Langkah selanjutnya adalah aku mengumpulkan resep dari berbagai sumber, mulai dari tanya ke saudara, teman, lihat tayangan kuliner di televisi, tapi kebanyakan dari browsing internet. Alhamdulillah...kecanggihan teknologi pun bisa membantu emak-emak seperti aku ini. 

Jangan ditanya sulitnya bagiku memberikan takaran gula garam yang pas. Awal-awal aku memasak, keluargaku terpaksa makan dengan rasa masakan yang amburadul. Meskipun suami diam saja, tapi anak-anakku yang polos itu melayangkan protes. Memang benar pepatah ala bisa karena biasa... Aku mulai menemukan polaku sendiri untuk memasak. Aku anggap saja memasak seperti halnya trial and error praktikum jaman kuliah. Jikalau gagal membuat masakan yang lezat, jangan langsung putus asa dan mesti dicoba lagi. Aku nggak boleh gengsi untuk bertanya kepada orang lain yang lebih piawai. Tak ketinggalan suamiku terus menyemangati, “Kamu itu harus lebih pede masak!” katanya berkali-kali.

“Bu...Ibu...aku nambah lagi ya makannya...”. Sepenggal kalimat yang terlontar dari anak-anakku inilah membuatku harus terus memasak untuk mereka, menyiapkan menu sehat yang menunjang tumbuh kembang mereka dengan tanganku sendiri dan diracik dengan bumbu rahasia. Ssstt mau tahu bumbu rahasianya? Sebongkah cinta...